GOOGLE TRANSLATOR

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Portuguese Japanese Korean

About Me

Followers

Tuesday, May 18, 2010


Pengetahuan mengenai sejarah dan asal usul Koi sangat perlu, terutama bagi para pemula atau orang yang masih awam tentang Koi. Dengan mengetahui sejarah dan asal usul Koi, akan mudah untuk membicarakan hal-hal yang berbau teknis, seperti budidayanya dan lain sebagainya.

Secara resmi, Koi masuk ke Indonesia sekitar tahun 1991, yang dibawa oleh Kaisar Akihito ketika berkunjung ke Negara ini. Sang Kaisar memberikan puluhan ekor Koi kepada Presiden Soeharto sebagai cinderamata. Jenis Koi yang dibawa adalah Kumpai yang merupakan hasil persilangan antara Ikan Karper Indonesia dan Koi Jepang. Versi lain menyebutkan bahwa Koi sudah ada di Indonesia sejak Bung Karno diberi hadiah Koi oleh pemimpin Cina. Bung Karno membagikan Koi tersebut kepada sejumlah peternak di daerah Batu, Malang.

Dalam legenda Cina diceritakan bahwa Koi pertama kali muncul 2.500 tahun yang lalu atau sekitar 551-419 SM. Saat itu, seorang putra ahli filsafat Cina yang bernama Confusius sedang berulang tahun dan diberi hadiah berupa ikan Koi oleh Raja Shoko. Mitos di Cina mengatakan bahwa Koi tersebut mempu berenang dan mendaki air terjun di Sungai Kuning. Beberapa sumber menyebutkan bahwa awalnya Koi berasal dari Persia dan masuk ke Jepang melalui daratan Cina dan Korea, serta berkembang pesat sejak 170 tahun yang lalu. Kata “Koi” berasal dari bahasa Cina. Bibit Koi pertama kali ditemukan oleh orang Cina. Saat ditemukan, masih berbentuk ikan karper yang dipercaya sebagai nenek moyang ikan Koi. Namun, perkembangbiakan dan penangkaran ikan Koi, justru orang-orang Jepang yang melakukannya. Wajar kalau sebagian masyarakat mengatakan bahwa penemu ikan Koi adalah Jepang.

Anggapan bahwa Koi berasal dari jepang sebenarnya berpijak pada factor histories yang berkembang. Secara histories, ikan yang mencatat rekor usia 226 tahun ini memang tidak bisa dilepaskan dari factor Jepang, walaupun tentang asal-usulnya memiliki berbagai versi.

Koi masuk ke Jepang sekitar tahun 1804-1830, disebuah desa di Pegunungan Niigata, berupa Koi satu warna, selain Koi Hitam. Koi yang dihasilkan adalah Koi Merah, Koi Putih dan Koi Kuning Muda. Kemudian, menyebar ke desa Takerawa, Higayashima dan lain-lain. Akhirnya, desa-desa tersebut menjadi sentra pengembangan Koi. Menurut catatan Takeo Kuroki, pada mulanya para peternak baru bisa menghasilkan varietas Koi warna tunggal, seperti hitam (karasugoi dan sumigoi), putih (shiromuji), merah (akagoi, bhemigoi dan higoi), kuning (kigoi), keemasan (kingoi) dan putih keperakan (gingoi). Dari hanya satu warna, kemudian berkembang Koi Dua Warna, misalnya Koi Putih-Merah (Kohaku) dan Koi Hitam-Putih (Shiro Bekko dan shiro Utsuri). Selanjutnya muncul Koi Tiga Warna yakni merah-hitam-putih (taiso sanke dan showa sanshoku). Dan yang terkahir lahir Koi Lima Warna yang disebut Goshiki yang berwarna dasar biru dengan bercak-bercak merah, hitam, biru tua dan putih.

Di negara jepang, ikan Karper disebut sebagai Nishikogoi. Nishi berarti ikan warna-warni dan Goi berarti ikan karper. Nishikogoi dijuluki Koi Warna-Warni, Koi Khayalan, atau Koi Kembang karena keindahannya yang eksotis. Tahun 1904, komunitas penggemar Koi di Jepang digemparkan oleh munculnya Koi tidak bersisik dari Jerman. Mereka menyebutnya Kagamigoi, yang merupakan hasil persilangan antara karper jepang dan karper Jerman. Jika hasil persilangan pertama disilangkan kembali, Koi yang dihasilkan adalah Doitsu Nishikigoi yang memiliki badan setengah bersisik dan setengah tidak bersisik.

Hingga kini, jenis Kohaku dianggap sebagai Ratu-nya Koi. Kohaku lahir pada zaman Bunka dan Bunsel (804-1829). Warna tubuhnya merah dan putih, mirip bendera Jepang. Saking populernya, ada pepatah dikalangan penggemar Koi di Jepang yang mengatakan “memelihara Koi dimulai dari Kohaku dan berakhir dengan Kohaku”



Koi yang dipelihara dan dikembangkan di Indonesia memiliki banyak variasi, terutama pada warnanya. Variasi semacam ini menyebabkan Koi dibagi menjadi beberapa kelompok atau jenis. Pada dasarnya, ikan Koi yang ada di Indonesia dikelompokkan menjadi dua, yaitu Koi Lokal dan Koi Impor. Koi Lokal adalah Koi hasil persilangan atau pembastaran antara Koi Indonesia dan koi Impor. Koi Impor adalah Koi yang didatangkan dari Jepang.

Koi Lokal memiliki perbedaan yang jelas dengan Koi Impor. Koi Lokal memiliki warna yang kurang cemerlang dibandingkan dengan Koi Impor. Koi Impor warnanya lebih murni. Warna putih Koi Impor tidak memudar dan tidak kekuningan, seperti koi Lokal. Bentuk tubuh Koi Lokal lebih pipih, sedangkan Koi Impor bulat tetapi tidak kelihatan gemuk. Umumnya, Koi Lokal lebih liar daripada Koi Impor. Kenyataannya, Koi Impor lebih mudah ditangkap daripada Koi Lokal. Harga Koi Impor lebih tinggi daripada Koi Lokal.

a.Pengelompokan Koi Berdasarkan Pola Warna

Menurut Asosiasi koi Jepang, varietas Koi berdasarkan pola warnanya dibedakan menjadi 13 varietas. Ciri varietas Koi dipaparkan sebagai berikut :

1.Kohaku
Varietas ini memiliki komposisi warna putih dan merah (dwiwarna). Koi Kohaku akan dianggap berkualitas prima jika warna putihnya seputih salju dan warna merahnya gelap. Warna merah memiliki dua dasar, yaitu ungu dan coklat kekuningan. Warna merah yang dasarnya ungu akan lebih gelap dan tidak memudar. Kohaku dengan bercak merah menyerupai kilat halilintar disebut Inazuma Kohaku. Kohaku dengan bercak merah seperti Topi Napoleon disebut Doitsu-Kohaku-Napoleon.

Kohaku merupakan jenis Koi Dwiwarna yaitu merah dan putih

2.Taisho Sanke
Varietas ini memiliki warna dasar tubuh putih dihiasi bercak merah dan hitam (triwarna). Koi Taisho Sanke dianggap berkualitas prima jika warna putihnya seputih salju dan merahnya pekat. Taisho Sanke yang warnanya merah merambat dari kepala hingga ekor disebut Aka Sanke. Taisho Sanke yang terdapat gumpalan merah di kepalanya disebut Fuji Sanke.

3. Kawarimono
Varietas ini terdiri dari karasugoi dengan warna hitam, Kigoi yang berwarna kuning, Chagoi yang berwarna coklat, midorigoi yang berwarna hijau, dan Matsuba yang warna tubuhnya berpola bunga cemara. Sumber lain menyebutkan bahwa